Pesona Orasi Anis Matta

27 Apr

oleh: Marhaen Natsir

anismattapks

Islamedia – Kalau Tjokroaminoto, Soekarno, Natsir, dan Soeharto hadir menyimak orasi ini, saya percaya tokoh-tokoh tadi akan berdiri, berteriak “merdeka!”, atau bahkan menyerukan takbir. Atau sekadar bertepuk tangan. Atau sekurangnya tersenyum dan mengangguk-angguk, tanda persetujuan.

Orasinya ringkas saja. Kurang dari 12 menit. Lebih singkat daripada perjalanan KRL Bogor – Jakarta. Lebih pendek dibanding macetnya “Jalan Casablanca” di ibukota. Tapi isinya padat. Padatnya berisi. Lebih pulen daripada nasi beras Pandanwangi. Lebih manis daripada tebu Brastagi.

Kalimat pembukanya akrab dan romantis: “Saudara-saudaraku yang saya cintai”. Disampaikan sebagai acara penutupan Rapimnas sebuah partai. Sekaligus peringatan hari jadi partai tersebut.

“Tapi… sesungguhnya kita tidak sedang memperingati hari jadi sebuah partai politik. Yang sesungguhnya kita peringati, adalah lahirnya sebuah cita-cita, lahirnya sebuah generasi,” seru Sang Orator.

“Sebab partai politik sejatinya adalah mesin ideologi, bukan kendaraan pribadi menuju kekuasaan,” lanjutnya lagi memberi negasi atas perilaku politisi kebanyakan yang semata memanipulasi suara rakyat atau mempertontonkan kesantunan semu demi pundi-pundi pribadi dan dinasti politiknya.

Sang Orator melantangkan orasinya di Semarang, 100 tahun setelah Haji Oemar Said Tjokroaminoto sukses besar menggelar vergadering (rapat akbar) Sarekat Islam pertama di Surabaya. Tapi dari beberapa seri orasi yang disampaikan, tergambar jelas apresiasinya yang luar biasa, terhadap sosok pahlawan nasional itu. Dalam suatu kesempatan lain, dijelaskannya peran strategis Tjokro sebagai guru bagi cikal-bakal ragam aliran perjuangan politik di Indonesia.

“Mereka memilih hidup di Indonesia,” ujar Sang Orator ketika membagikan imajinasinya tentang Indonesia masa depan, “karena di sini mereka punya harapan akan kesejahteraan. Semata-mata karena mereka punya semangat kerja. Siapapun yang ingin bekerja, siapapun yang ingin bekerja, siapapun yang ingin bekerja… seharusnya punya tempat di negeri ini!” seru Sang Orator di hadapan ribuan pengurus dan kader partainya, 89 tahun setelah Tjokro Sang Raja Tanpa Mahkota itu menulis buku “Islam dan Sosialisme”.

Sang Orator baru dilahirkan 23 tahun setelah proklamasi dibacakan di Jakarta. Ia tidak lahir di Blitar, bahkan tidak juga di Pulau Jawa, melainkan di Celebes, tepatnya di Bone, 44 tahun lalu. Tapi demikianlah pemikiran tersambung menyeberang jarak dan lautan, melintasi ruang dan zaman. Intip saja ketika ia mengemasi bukunya setelah mengundurkan diri dari Wakil Ketua DPR, karena tidak mau rangkap jabatan. Di sana ada buku-buku karya dan buku-buku mengenai Sang Proklamator. Tak heran kalau ia fasih mengutip dan mencerna pemikiran Putra Sang Fajar itu.

“Dahulu Soekarno pernah mempunyai ide tentang Trisakti,” kata Sang Orator mengingatkan lagi visi Bung Karno, 49 tahun setelah Presiden Pertama RI itu mengemukakannya dalam pidato peringatan Milad ke-19 Republik Indonesia. “Berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” demikian Sang Orator mengutip isi Trisakti.

Sang Orator masih belum lahir, ketika Soeharto pertama kali dilantik jadi Presiden dan mencetuskan trilogi pembangunan. Tapi ia merasakan bagaimana represi rezim itu, hingga kemudian Era Reformasi tiba. Ia pun menjadi Sekjen parpol reformis.

“Yang ingin kita bangun adalah negara manusia. Manusia yang punya hati. manusia yang punya pikiran. Karena itu kita ingin, negara ini mengelola rakyatnya sebagai manusia. Dengan semua mimpi-mimpinya, dengan semua harapannya. Dan memberikan apa yang mereka perlukan sebagai manusia.

“Dan kita ingin, angka-angka statistik dalam politik, dalam ekonomi, dan dalam budaya itu semuanya, pada akhrinya bermuara pada satu cita-cita kemanuisaan yang besar, pada satu cita-cita kemanusiaan yang dialami seluruh manusia, yaitu cita-cita untuk menjadi makhluk yang bahagia di planet ini,” urai Sang Orator pada Jum’at 19 April 2013, 15 tahun setelah Reformasi bangkit, 15 tahun setelah rezim Orba tumbang, rezim yang sempat dikenal mempopulerkan GBHN konsep yang sebenarnya cemerlang yakni “pembangunan manusia seutuhnya”, rezim yang jatuh karena terjerumus terlalu dalam, setelah sempat menikmati masa-masa bulan madu di awal kehadirannya.

Sang Orator menyampaikan orasinya, 56 tahun setelah Natsir berpidato di hadapan Konperensi masjumi di Sumatera Tengah.

“Masjumi tidak pernah absen, Masjumi tidak pernah mangkir dalam menghadapi kesulitan2 jang dirasakan oleh negara. Masjumi sedarah-sedaging dengan Republik Indonesia….” kata ulama, sekaligus pemimpin, sekaligus pemikir, sekaligus penulis, Mohammad Natsir ketika itu.

Maka kita absah untuk mengakui, seolah ada nafas Natsir dalam buah pikir Sang orator. Bukan hanya karena kemiripan profil keduanya sebagai ulama, pemimpin, pemikir, dan penulis. Akan tetapi juga ketika ia menguraikan dengan repetisi yang menggetarkan …

“Misi kemanusiaan itu sekali lagi, dalam kalimat yang sederhana ialah, mengubah Indonesia menjadi sepenggal firdaus. Saudara-saudara sekalian, kita akan menghabiskan seluruh umur kita untuk misi yang suci ini. Kita akan menghabiskan seluruh kekuatan kita, untuk misi kemanusiaan ini. Dan kita akan menghabiskan seluruh tenaga kita, untuk misi kemanusiaan ini. Kita juga akan menghabiskan seluruh pikiran dan perasaan kita untuk misi kemanusiaan ini.”

Demikianlah sekilas muatan orasi tersebut. Menyimaknya bisa membuat pendengar seolah menyusuri lorong sejarah pemikiran dan pergerakan bangsa. Tapi dengan kebaruan yang menyegarkan, sekaligus menginspirasi, juga membumi. Kebaruan yang menerobos, karena beda dibanding petatah-petitih politisi kebanyakan.

Tentu saja di sinilah pula, Sang Orator secara resmi memproklamasikan “nilai-nilai inti masyarakat Indonesia… karena tiga nilai inti ini mempunyai akar yang kuat dalam latar budaya kita, dan juga dalam latar pemikiran politik di Indonesia.” Ketiga nilai itu ialah “cinta, kerja, dan harmoni”.

Kalau Anda sudah menyimaknya, lalu menyebarluaskannya dengan riang gembira, maka kemungkinannya hanya tiga: anda telah terasuki oleh cinta, atau anda telah bersetuju dengan spirit kerja yang didengungkannya, atau anda telah tergoda oleh cita keragaman dalam harmoni yang dituturkannya. Ataukah Anda tidak setuju? Maka tontonlah terlebih dahulu. Wallaahu a’lam. [anismatta.wordpress.com]

 

Sumber: islamedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anis Matta

Sang Gelombang Abad 21

%d bloggers like this: