Jebakan Megalomania

23 Jun

Terlalu tipis memang. Tapi bukan tidak mungkin untuk ditemukan selama kita jujur: nilakah amarah dan ambisi ini, atau embun. Hanya, ini juga bisa jadi awal dari riwayat megalomania yang panjang.

Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Di sekelilingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap ke dalam bentengmu. Ke dalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kamu mulai merasa besar.
Itulah awalnya. Kamu mulai merasa besar.

Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan musuh-musuhmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya. Merasa besar itu.

Seperti itulah pada mulanya. Fir’aun merasa besar. Lalu merasa mirip-mirip Tuhan. Kemudian merasa layak jadi Tuhan. Maka, ia pun berseru, lantang, di tengah gelombang massa rakyatnya yang patuh-patuh itu, “Akulah Tuhan kalian.”

Luar biasa rumitnya. Kamu hebat. Tapi tidak boleh merasa hebat. Kamu besar. Tapi tidak boleh merasa besar. Kamu berkuasa. Tapi tidak boleh merasa berkuasa. Fakta dan perasaan tentang fakta yang harus dipisah. Kekuasaan dan perasaan tentang kekuasaan yang harus dijauhkan. Itu menyakitkan. Orang-orang tidak menyukai situasi itu.

Ini perjuangan yang berat. Temanya adalah belajar memahami asa] usul kita sebagai manusia. Kamu diciptakan. Kamu tidak menciptakan. Kamu hadir ke dunia tanpa apa-apa. Terlalu banyak orang berjasa atas dirimu. Terlalu banyak yang tidak kamu tahu. Terlalu banyak yang tidak kamu kendalikan. Kamu bisa kendalikan angin? Laut? Gunung?

Kamu sebenarnya tidak hebat benar. Tidak berkuasa benar. Jadi kamu tidak punya alasan untuk merasa hebat atau berkuasa. Apalagi merasa mirip Tuhan. Apalagi merasa layak jadi Tuhan. Lihat saja Fir’aun. Mati ditelan laut. Lihat saja Soekarno. Jatuh juga dari kekuasaannya. Lihat juga Soeharto. Lengser juga akhirnya.

Khalid bin Walid mungkin tersanjung. Bait-bait sanjungan dan kekaguman sang penyair membuatnya berbunga. Dia memang hebat. Sebagai panglima perang atau Gubemur Qinnasrin. Dan dia merasa hebat. Perasaan itulah yang membuatnya bermurah hati. Ia menghadiahi sepuluh ribu dirham untuk sang penyair.

Tapi itulah sebabnya. Atau salah satu sebabnya. Lelaki yang hebat. Sangat berkuasa. Ditakuti musuh. Dikagumi sahabat. Tapi dia melanggar tabu. Dia merasa hebat, tersanjung, lalu terjebak. Sepuluh ribu dirham ini memang dari koceknya sendiri. Tapi itu terlalu boros untuk menghargai sebuah sanjungan. Maka, Umar pun memecatnya. [anismatta.wordpress.com]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anis Matta

Sang Gelombang Abad 21

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers

%d bloggers like this: